UGM peringkat 88 di ASIA versi webometrics???
Setiap manusia menginginkan yang terbaik bagi masa depannya. Tak heran jika mereka mengenyam berbagi pendidikan hingga jenjang yang dirasa cukup. Masa depan seseorang dinilai akan terjamin salah satunya jika ia berhasil menuntut penndidikan di suatu perguruan tinggi yang bergengsi yaitu perguruan tinggai favorit, setidaknya itulah yang masih terjadi di indonesia. Nama atau reputasi suatu perguruan tinggi sangat berpengaruh terhadap masa depan lulusannya walau tidak sepenuhnya itu benar karena kunci kesuksesan seseorang pada intinya adalah tergantung pada dirinya. Semakin tinggi atau baik reputasi suatu perguruan tinggi, maka nilai dari lulusannya akan semakin tinggi, apalagi jika perguruan tinggi tersebut mampu menduduk peringkat dunia.
UGM merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik dan tertua di indonesia. Berdasarkan peringkat dari webometric, hanya ada dua perguruan tinggi di indonesia yang masuk dalam peringkat 100 besar asia yaitu UGM dan ITB. UGM dari tahun ketahun mengalami penurunan peringkat dalam 100 perguruan tingi terbaik di asia. Menanggapi hal tersebut, kita mestinya tetap bangga dan yakin pada kemampuan kita sebagai kalangan akademisi di UGM jika kita adalah yang terbaik. Penentuan peringkat webometric ditentukan berdasarkan banyak kriteria, diantaranya adalah ketersediaan fasilitas, sarana, manajemen dan sistem pendukung lainnya. Jika kita bebicara mengenai fasilitas,sarana dsb, maka satu kata kunci untuk memenuhi kebituhan tersebut yaitu uang. Kita jelas kalah dari segi sarana fisik karena memang keterbatasan anggaran kita untuk sektor pendidikan. Negara-negara yang memiliki pendapatan yang besar, akan melengkapi sarana dengan baik. Begitu juga dengan sarana lainnya. Tidak heran jika National University of Singapore (NUS)bisa menempati peringkat 5 besar karena singapura tergolong negara maju dengan uang yang berlimpah. Kita harus tetap optimis jika kitalah yang terbaik
Contribution of agricultural sector for economi crisis on 2008
Dunia ini penuh dengan berbagai persoalan yang sangat rumit. Belakangan ini kita kembali dihadapkan pada suatu isu hebat yaitu adanya krisis ekonomi global. Kondisi ini jelas mendapatkan respon yang cukup hebat dari masyarakat seluruh dunia yang terkena imbas krisis tersebut, tak terkecuali di indonesia. Indonesia punya kenangan yang sangat pahit pada tahun 1998 lalu, dimana bangsa kita benar-benar mengalami kondisi perekonomian yang berantakan akibat adanya krisis. Dampak krisis pada waktu itu terhadap perekonomian indonesia jelas sangat terasa. Hal tersebut karena banyaknya urusan kita dengan luar negeri. Kita masih bergantung pada luar negeri, baik bahan baku, bahan pangan ataupun masalah finansial. Kita memiliki bahan baku/raw material yang berlimpah, namun karena keterbatasan SDM yang tersedia, sehingga kita tidak mampu mengelola kekayaan alam kita dengan baik. Keadaan tersebutlah yang menjadikan kita terimbas krisis ekonomi pada tahun 1998 dengan kondisi yang memprihatinkan. Resesi ekonomi diluar negeri mengakibatkan penolakan ekspor barang-barang dari indonesia keluar negeri. Begitupun sebaliknya. Neraca perdagangan kita menjadi tidak seimbang. Nilai tukar mata uang kita menjadi lemah terhadap sejumlah mata uang asing, khususnya terhadap dolar amerika. Hal ini semakin memperburuk perekonomian kita. Perbankan merupakan salah satu sektor yang mendapatkan imbas terburuk. Sejumlah kewajiban yang harus dibayarkan keluar negeri dalam bentuk dollar baik itu bunga hutang, cicilan hutang ataupun bentuk lainnya jelas mengkibatkan terkurasnya keuangan perbankkan indonesia akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Hal tersebut menimbulkan masalah likuiditas yang sangat serius bagi dunia perbankan di indonesia. Sejumlah bank swasta mengalami kebangkrutan karena tidak adanya dukungan finansial, begitupun dengan sejumlah bank pemerintah yang mengalami kerugian besar akibar krisis tersebut.
Krisis yang terjadi saat ini memang belum berdampak luar biasa seperti pada tahun 2008. Namun jika kondisi ini berlangsung terus menerus, jelas kondisi tahun 1998 akan terulang lagi. Namun disisi lain kita tetap optimis untuk bisa keluar dari permasalahan tersebut. Hal tersebut karena kita memiliki kekayaan alam yang melimpah, kondisi iklim tropis, tanah yang subur menjadikan kita sangat kaya akan bahan baku raw material ataupun bahan pangan. Kita tidak perlu dipusingkan dengan pemenuhan kebutuhan pangan selama sektor pertanian dijalankan dengan baik. Industri dan perbankan harus mulai memikirkan untuk mencari mitra/pasaran dalam negeri. Dengan segala kekayaan dan potensi yang kita miliki dan nilainya tak terhingga, maka sangat mungkin kita menjadi suatu bangsa yang mandiri. Pertanian yang optimal dan sustainable akan mampu menghasilkan produksi biomass yang berlimpah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industri. Selain itu akan menyerap tenaga kerja. Produk pertanian yang melimpah dan berkualitas akan mejadi incaran negara lain, karena masih banyak negara lain yang yang tidak memiliki kekayaan alam, sehingga pemenuhan kebutuhan bahan baku ndustri ataupun pangan masih bergantung pada negara seperti indonesia. Sistem perekonomian yang bergantung pada potensi lokal, akan memiliki ketahanan yang sangat kuat terhadap berbagai pengaruh buruk dari luar. Sebagai negara agraris, indonesia akan memiliki perekonomian yang mantap jika mampu menjadikan pertaian sebagai sektor andalan. (Chandra Setyawan STP)
-
Archives
- April 2009 (1)
- January 2009 (1)
- December 2008 (2)
- November 2008 (1)
- October 2008 (2)
- August 2008 (2)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS

